Bunga.

By Fahrul Nizar

Kau bicara tentang mawar.  Batang-batang cantik yang melukai jemari.

Dia bicara tentang Melati.  Lembar-lembar ranum yang tak henti mewangi.

Dan aku bicara tentang kamboja. Kelopak-kelopak lebar beludru tanpa wewangi tanpa kecantikan terlalu berani.

Bagaimana jika kita biarkan saja pekarangan itu penuh tanpa disengaja oleh pilihan-pilihan tak adil, yang memaksa biar akar-akar mencari sendiri unsur haranya, membumikan pijaknya, menemukan tempatnya.

Karena belum tentu kuntum-kuntum itu bahagia kita dampingkan dalam taman seindah nirwana.

Namun tak pernah dikenal dan dicintainya.

Leave a Reply