Ratapan dalam sebuah Puisi

May 7, 2007 by Fahrul Nizar

(1).

Waktu itu malam sabtu.

Bulan tunjukan parasnya, dengan yakin sang nur putih sirami hitamnya gelap.

Dan kau datang dengan jaket hitam, sehitam malam, rambut menyala, mengkilap, terlihat basah, …mewangi.

Kubuka gerbang kecilku, dan kau senyum…

Kau panggil namaku dengan lembut “Aluuun…”

Aku pun senyum, darah mengalir begitu cepat, terasa sampai ke urat.

Dari palung kabuku.

Tidakkah kau tahu??

Itulah detik-detik bahagiaku.

(2).

Diteras kecilku, diatas karpet abu-abu.

Aku duduk dan kau juga, bersila.., bersua.

Tidakkah kau tahu??

Masih saja asa datang saat kutatap mata kejora-mu.

Dengan angin lemah membawa harummu, menyentuh nafasku, masuk, mendebarkan jantung.

Aku gentar!!

Tak dapat kutahan…!! Jiwa ini tidak kuat!! Mungkin harus kuluap?!

Ya..!! ku katakan padamu (lagi) untuk sudi menjadi bulan dimalam hariku, dan mentari di pagi hariku.

Aku seperti dungu.

Tap itu bukan nyanyian.

Tapi sebuah syair dari bibir yang terluka.

Bibir sang raja yang duduk diantara reruntuhan singgasananya.

Fajar hari ini… (dec : Chikusho)

January 24, 2007 by Fahrul Nizar

Fajar hari ini lukiskan senyummu…

Apa kabarmu disana, duhai sang Dewi?

Terus terucap tentangmu walau masih di nurani.

Iringi bahagia jiwa hingga palunggnya.

Mahadewi, jika tak kuungkap indahmu, adakah harus terus kusimpan didada.

Harap meresap gita temu mengalun syahdu.

Fajar hari ini goreskan anggunmu.

Aku memang belum begitu mengenalmu, tapi dirimulah yang membuatku ingin mengenalmu.

Merangkai tanya setiap ku mengucapmu.

Aku hanya bisa melukiskanmu dari sini.

Walau nanti pengawal cinta membawaku pergi.

Tuhan, ingin kusapa melati-Mu

Yang merekah, begitu indah…

Doa-doa yang kukirimkan bersama gerimis…

Adakah mengetuk kamarmu?

Kala subuh beranjak dan mimpi semakin jauh.

Selalu saja ada sisa dari tiap percakapan kita, tentang cerita rahasia yang berakhir tanya.

Tentang asa yang datang hanya dalam mimpi.


Love of Prophet

January 24, 2007 by Fahrul Nizar

Ketika cinta memanggilmu ikutlah dengannya.

Meskipun jalan yang harus kau tempuh keras dan terjal.

Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya.

Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu.

Dan jika ia bicara padamu, percayalah meskipun suaramu akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memorak-porandakan pertamanan.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu, menumbuhkan & memangkasmu.

Mengangkat naik, membelai ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke Matahari.

Tapi cinta juga akan mencengkram, menggoyang akar-akarmu hingga tercerabut dari Bumi.

Bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya, menebahmu hingga kau telanjang.

Menggerusmu hingga kau terbebas dari kulit luarmu.

Menggilasmu untuk memutihkan.

Melumatmu hingga kau jadikan liat.

Kemudian ia membawamu kedalam api sucinya.

Hingga engkau menjadi roti suci perjamuan kudus bagi Tuhan.

Semuanya dilakukan cinta untukmu hingga kau mengetahui rahasia hatimu sendiri, dan dalam pengetahuan itu kau akan menjadi bagian hati kehidupan.

Jangan biarkan rasa takut bersarang, agar kau tak hanya menjadikan cinta tempat mencari senang.

Karena akan lebih baik bagimu untuk segera menutupi ketelanjangan dan berlalu dari lantai penebahan cinta.

Menuju dunia tanpa musim, dimana engkau akan puas tertawa, gelak yang bukan tawamu, dan kau akan menangis, air mata yang bukan tangismu.

Cinta tidak meberi apapun kecuali dirinya sendiri, dan tidak meminta apapun selain cinta itu sendiri.

Cinta tidak memiliki, dan tidak dimiliki.

Karena Cinta hanya untuk Cinta…

“The Prophet”

Bulan & Bintang

January 24, 2007 by Fahrul Nizar

Telah kutunjuk diriku menjadi bulan dihari malammu.

Telah kupilih diriku menjadi mentari pagimu.

Namun rela kujemput nyataku.

Ada bintang yang lebih mempesonakanmu.

Buat hari-hari bersamku bersamamu, jangan tutup diary-nya dengan kunci mati.

Yang tak bisa di buka lagi.

Karena relaku telah harus terjadi, walau asa masih sja datang melukis dirimu dalam kanvas retinaku.

Aku tak pernah.

January 24, 2007 by Fahrul Nizar

Aku tak pernah mengundangmu kedalam jantungku. Sungguh tak pernah!! Tapi bulan penghujung tahun memancar dari matamu seperti bunga mekar di musim semi. Lalu kusaksikan kabut talang, yang merapat kesisi kita membekukan lidahku untuk bilang; “aku akan melupakanmu”

Bunga.

January 24, 2007 by Fahrul Nizar

Kau bicara tentang mawar.  Batang-batang cantik yang melukai jemari.

Dia bicara tentang Melati.  Lembar-lembar ranum yang tak henti mewangi.

Dan aku bicara tentang kamboja. Kelopak-kelopak lebar beludru tanpa wewangi tanpa kecantikan terlalu berani.

Bagaimana jika kita biarkan saja pekarangan itu penuh tanpa disengaja oleh pilihan-pilihan tak adil, yang memaksa biar akar-akar mencari sendiri unsur haranya, membumikan pijaknya, menemukan tempatnya.

Karena belum tentu kuntum-kuntum itu bahagia kita dampingkan dalam taman seindah nirwana.

Namun tak pernah dikenal dan dicintainya.

tepat di jantung!!

January 24, 2007 by Fahrul Nizar

Tikamkan belati itu tepat dijantung…

Hingga rasa sakit melompati syaraf.

Karena kutahu kau sungguh ingin melakukannya.

Menikamku, tepat di jantung, berkali-kli…

Hingga tak ada darah lagi…

Hingga tak tersisa cinta lagi…

Di rumah putihku.

Di awal Juli.

Di jalan Dewi Sartika No.17

Direruntuhan bulan agustus.

Dari Aceh hingga Papua.

Tikamkan belati itu tepat di jantungku.

Agar kekal penghianatanmu.

pembuktian

December 25, 2006 by Fahrul Nizar

Akan datang suatu masa, menuju satu hari…

hari pembuktian…

kepada kelompok-kelompok yang ’selingkuh’, yang menyekutui, yang paganisme…

yang tak mengakui monotheisme…

Percayalah…, dan lihatlah nanti…

pembesarmu tak sanggup ulurkan jari,

terlebih mensyafaatkanmu…

Percayalah…

itu akan terasa amat panas…

dan bahan bakarnya dari batu dan dirimu dan orang-orangmu…

Tiada dispensasi, tapi kontraprestasi…, sebab akibat prinsip-prinsip mu.

kelak kekal kau di palung sang Shaqas

Sebagai akibat dari penghianatan sang pembawa kabar baik.

Terakhir

December 13, 2006 by Fahrul Nizar

Ini adalah sajak terakhir

Yang kutulis dengan air mata dan darahku.

Sebab luka telah lama menganga.

Sungguh!!

Butuh banyak tenaga.

Untuk mengajakmu memaknai warna telaga.

Dedicated to Rany

December 13, 2006 by Fahrul Nizar

Malam terlihat lelah, dan ia lepaskan jubahnya yang hitam.

Dan siangpun menjadi terang.

Masih saja parasmu terbenak di syaraf-syaraf otak.

Duhai Mahadewi…

Betapaindah Sang Agung memahatmu, melukismu & mewarnaimu.

ingin ku meraihmu, namun kaulah sang gunung.

ingin ku menyentuhmu, namun kaulah rembulan.

Jika…

Ada kesempatan satu kali saja, atau satu hari saja.

Untuk kita bersua…

Maka akulah mentari yang memberimu sinar.

Akulah tumbuh-tumbuhan yang menghijaukan tebingmu.

Dan kau lah sampan…

Sampan yang terapung di samudra…

Samudra adalah aku.

Samudra adalah cinta. 

Cintaku untukmu.