(1).
Waktu itu malam sabtu.
Bulan tunjukan parasnya, dengan yakin sang nur putih sirami hitamnya gelap.
Dan kau datang dengan jaket hitam, sehitam malam, rambut menyala, mengkilap, terlihat basah, …mewangi.
Kubuka gerbang kecilku, dan kau senyum…
Kau panggil namaku dengan lembut “Aluuun…”
Aku pun senyum, darah mengalir begitu cepat, terasa sampai ke urat.
Dari palung kabuku.
Tidakkah kau tahu??
Itulah detik-detik bahagiaku.
(2).
Diteras kecilku, diatas karpet abu-abu.
Aku duduk dan kau juga, bersila.., bersua.
Tidakkah kau tahu??
Masih saja asa datang saat kutatap mata kejora-mu.
Dengan angin lemah membawa harummu, menyentuh nafasku, masuk, mendebarkan jantung.
Aku gentar!!
Tak dapat kutahan…!! Jiwa ini tidak kuat!! Mungkin harus kuluap?!
Ya..!! ku katakan padamu (lagi) untuk sudi menjadi bulan dimalam hariku, dan mentari di pagi hariku.
Aku seperti dungu.
Tap itu bukan nyanyian.
Tapi sebuah syair dari bibir yang terluka.
Bibir sang raja yang duduk diantara reruntuhan singgasananya.
